Kajian Ilmu "Hakikat Kemenangan di dalam Al-Qur'an" Mushola Al-Amanah GKN Renon, Denpasar.


[islammotivasyon.com] DENPASAR-FAJ_Fauzan Aljundi. Kali ini Musholla Al-Almanah GKN Renon mengundang Ust. Dedi Hariadi, Lc. Beliau adalah alumni jurusan tafsir & studi ilmu Al-Quran Universitas Al-Azhar Kairo Mesir, seorang ustadz yang banyak berkiprah terutama di Jawa Barat. Sebagai Sekjen Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Jawa Barat, Direktur Rumah Tafsir Indonesia, trainer Majelis Darul Akhirat, dan sebagai Direktur Rumah Tahfidz Bandung. Musholla Al-Amanah setiap akhir pekan aktif mengadakan kajian ilmu, dan pada kesempatan ini bekerja sama dengan teman-teman Lingkar Peradaban untuk menjalankan acara tersebut.

20-08-16 Kajian Ilmu yang bertemakan "Hakikat Kemenangan di dalam Al-Qur'an" Ust Dedi menyampaikan bahwa dizaman globalisasi ini banyak orang yang lalai terhadap perintah Allah dan banyak orang yang putus asa terhadap ujian yang Allah beri. Sehingga banyak yang melupakan bahwa Allah akan memberikan pertolongan untuk hambaNya "apabila datang kemenangan dari Allah, itu adalah pertolongan dari Allah.. dan satu penyebab orang mendapatkan pertolongan dari Allah adalah orang yang bertawakkal kepada Allah.." tuturnya dalam materi tersebut. Dimana kita dilatih agar jangan sekali-kali kita bersuuzon kepada Allah, karna Allah akan memberikan pertolongan bagi hambaNya yang mau berusaha. Makna bertawakkal pada Allah ini adalah ketika kita sudah berusaha maksimal yang disertai dengan kepasrahan kita/memanjatkan do'a terbaik kita untuk Allah, niscaya Allah akan menolongan hambaNya dan memberikan kemenangan.

Dalam kajian tersebut Ust Dedi mentarbiyah/mendidik kita untuk berhusnuzon kepada Allah "ketika Allah memberikan sesuatu yakinlah bahwa itu yang terbaik buat kita" paparnya. Untuk itu ketika kita mendapatkan sesuatu dari Allah kita harus menyakini bahwa itu yang terbaik, itu sebagai rasa syukur kita kepada Allah. Maka dalam janjinya Allah akan menambah rejeki untuk kita. "Perbanyak syukur kepada Allah ketika mendapat kenikmatan, karena sesuatu yang kita syukuri pasti akan bertambah" tambahnya.

Ust Dedi juga menyampaikan tentang memahami sebuah musibah dan bagaimana sikap kita terhadap musibah tersebut "Allah akan menghadirkan orang-orang yang menghancurkan hati kita, kenapa Allah menghadirkan orang-orang tersebut? Allah menguji kita ketika sedang kesusahan, kita harus kembali kepada Allah agar hati kita tenang dan menjadi lebih dekat kepada Allah, karna musibah adalah cara untuk kita dekat dengan Allah sebagai Tuhan yang maha Agung" ucapan penutup dalam kajian tersebut.
semoga ilmu-ilmu yang beliau sampaikan bermanfaat dan menjadi amal jariyah Ust Dedi Hariadi, Lc.

_Sejenak Menjelang Sholat Jum'at._


```KISAH SI TUKANG GORENGAN```

_Alkisah ada seorang penjual gorengan yang selalu menyisakan buntut singkong goreng yang tak terjual._

_Dia selalu memberikan sisa gorengan tersebut pada seorang bocah yang sering main di tempatnya mangkal._

_Tanpa terasa, sudah lebih dari 20 tahun dia menjalani usahanya itu. Namun tidak ada perubahan yang berarti; usahanya tetap begitu2 saja._

_Suatu hari, datang seorang pria membawa mobil mewah, lalu berhenti di depan gerobak gorengannya. Pria itu bertanya, “Ada gorengan buntut singkong, Pak?”_

_Si tukang gorengan lantas menjawab, “Nggak ada, Mas.”_ _“Saya kangen sama buntut singkongnya, Pak._

_Dulu waktu kecil, ketika ayah saya baru meninggal, tidak ada yang membiayai hidup saya._

_Teman-teman saya mengejek saya karena tidak bisa beli jajanan. Tapi waktu itu, Bapak selalu memberi buntut singkong goreng kepada saya, setiap kali saya main di dekat gerobak bapak,” ujar pria muda itu._

_Tukang gorengan terperangah. “Yang saya berikan dulu kan cuma buntut singkong.. Kenapa kamu masih ingat saya?”_
_“Bapak tidak sekadar memberi buntut singkong, tapi juga sudah memberikan kebahagiaan dan harapan buat saya._

_Saya mungkin tidak bisa membalas budi baik Bapak. Tapi, saya ingin memberangkatkan Bapak ke Tanah Suci. Semoga Bapak bahagia,” lanjut pria itu._

_Si tukang singkong goreng hampir tidak percaya. Hanya sebuah kebaikan/sedekah kecil tapi mendatangkan berkah yang begitu besar!_

_Selalu bersyukur & berbuat baik. Sekecil apa pun, asal ikhlas dan tulus, pasti akan membuahkan kebahagiaan dan keberkahan._

Sdr & sahabatku.....
*_Berbuat baiklah, jangan ditunda. Dengan tutur kata, pikiran atau perbuatan yg positif lainnya._*

*Hari jum'at telah datang, mari memperbanyak istighfar, sholawat, berdoa, sodaqoh & membaca srt al kahfi.*

*_Robbana Taqobbal Minna_*.
_Ya Alloh terimalah dari kami (amalan kami), Aamiin._

*Semoga Bermanfaat*

Sosialisai 4 Pilar Kebangsaan Bali


[islammotivasyon.com] DENPASAR - FAJ_Fauzan Aljundi. Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan yang diadakan oleh MPR-RI bekerjasama dengan teman-teman Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Bali. Dimana kegiatan diadakan pada hari Kamis 11 Agustus 2016 di gedung Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jl. Letda Tantular Nomor 14 Renon, Denpasar.

Sejak tahun 1998 kita memasuki era baru yang disebut dengan era reformasi, dalam era ini kita diberi kebebasan dalam berpendapat tetapi sering kali dimaknai bebas tanpa batas. Kesalahpahaman tersebut menyebabkan memudarnya nilai-nilai agama dan kenegaraan. tentu saja hal tersebut sangat disayangkan bagi kehidupan bangsa dan negara. Maka dari itu Pemerintah mempunyai tanggung jawab untuk menjawab persoalan tersebut. Kegiatan Sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan adalah program MPR-RI untuk memberikan pemahaman kepada generasi muda tentang: 
1. Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara 
2. UUD 1945 sebagai konstitusi negara serta ketetapan MPR
3. NKRI sebagai bentuk negara dan
4. Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan negara

Tujuan pelaksanaan sosialisasi ini adalah untuk menggali nilai-nilai yang terkandung dalam 4 pilar kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara agar dapat dipahami secara utuh, meneyeluruh dan berkelanjutan. kegiatan ini nantinya diharapkan bisa menjadi dasar dalam mewujudkan visi dan misi Indonesia ke depan yang leibih maju dan bermartabat.

Terutama untuk anak muda sebagai generasi penerus bangsa yang harus diberikan pemahaman tentang materi kebangsaan ini "Anak-anak muda saat ini ada yang kehilangan jati diri.. pentingnya pemuda dalam pembangunan negara karna ditangan anak mudalah bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukan" kata pengurus DPD Muhammadiyah dalam sambutannya.

Dr. H. Hidayat Nur Wahid sebagai pemateri menyapaikan point penting dalam acara tersebut. "Anak muda saat ini banyak yang kehilangan jati diri, terlalu asik dengan globalisasinya. sebentar lagi kita akan merayakan kemerdekaan Indonesia, dimana kita harus mempelajari kiprah Pahlawan Nasional yang sebagian mereka adalah seorang akademisi (mahasiswa). Anak muda yang berada di kampus atau lingkungan akademisi bukan hanya mempelajari teori saja tapi juga mengaplikasikan ilmunya untuk berkontribusi di masyarakat, yang itu semua untuk kepentingan negara" paparnya dalam acara tersebut. Hidayat Nur Wahid mendorong anak muda untuk bangkit dari keterpurukan demi mencerdaskan kehidupan bangsa, atas dasar itulah sosialisasi 4 pilar menjadi begitu penting.

Para generasi muda juga diberikan pemahaman bahwa Indonesia merupakan negara yang beragam "Dalam keberagaman di Indonesia, banyak aneka warna yang menghiasi negara kesatuan Indonesia dengan Bhineka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu negara" tutur Prof. Dr. Ibrahim, SH, MA

"MPR-RI bersama berbagai elemen di Bali yang menjaga keutuhan bangsa" ucapan penutup Hidayat Nur Wahid dalam acara tersebut.

Mengisi waktu luang anda dengan mengikuti kajian ilmu "Majelis Jejak Nabi" wilayah Denpasar dan sekitarnya..


*HADIRILAH!*
Majelis Jejak Nabi Edisi Spesial

bersama

*Ust. Dedi Hariadi, Lc.*
_#Alumni Jurusan Tafsir & Studi Ilmu Al Quran Universitas Al Azhar Kairo Mesir_
_#Sekjen Ikatan Dai Indonesia (IKADI) Jawa Barat_
_#Direktur Rumah Tafsir Indonesia_
_#Trainer Majelis Darul Akhirat (MDA)_
_#Direktur Rumah Tahfidz Bandung_

*•Jumat, 19 Agustus 2016*
_"Proyek Meraih Firdaus: Menemani Rasulullah di Syurga_
@Musholla Baitul Mu'minin BKDI-Panjer
(Ba'da Isya', Pkl. 20.00 - 22.00 wita)

*•Sabtu, 20 Agustus 2016*
_"Belajar menjadi Mu'min Sejati dari Nama Alloh, Al-Mu'min"_
@Masjid Abdurrahman bin Auf, Perum Kori Nuansa Barat - Jimbaran
(Ba'da Subuh Pkl. 05.30 wita - Selesai)

_"Hakikat Kemenangan dalam Al-Qur'an"_
@Musholla Al Amanah, Gedung Keuangan Negara - Renon
(Pkl. 16.00 wita - 18.00 wita)

_"Proyek Merain Firdaus: Menyiapkan Kematian Terindah"_
@Masjid Agung Al Fattah, Perum Taman Griya - Jimbaran
(Ba'da Isya', Pkl. 20.00 wita - 22.00 wita)

*•Ahad, 21 Agustus 2016*
_"Menemukan Cinta Alloh dibalik Musibah"_
@Masjid Agung Ibnu Batutah, Kompleks Puja Mandala - Nusa Dua
(Ba'da Subuh, Pkl. 05.30 wita - Selesai)

#LingkarPeradaban
#MajelisJejakNabiBali
#InfoKajianPeradaban

*Contact Person:*
+62 822‑1483‑4481 _(Ikhwan)_
+62 899-7477-762 _(Akhwat)_

Facebook: Lingkar Peradaban
Instagram: @LingkarPeradaban
Twitter: @eLPeradaban

*Stroke di Kamar Mandi*


Kenapa banyak orang jatuh dan kena stroke dalam kamar mandi...... kenapa tidak di tempat lain???
Untuk renungan.....kita selalu dengar orang jatuh di kamar mandi dan kena stroke dan sebagainya.
Kenapa kita jarang dengar jatuh ditempat tempat lain?
Pada waktu saya mengikuti kursus gaya hidup sehat, seorang penceramah professor di universitas di malaysia, UITM yang juga terlibat dengan kegiatan olah raga negara menasihatkan supaya pada waktu mandi jangan basahkan kepala dulu, basahkan bahagian badan.
Ini karena apabila kepala basah dan dingin, darah semua akan mengalir ke kepala untuk memanaskan kepala, logika 'warm blooded human' dan jika ada saluran darah sempit, maka dapat terjadi kondisi saluran darah pecah. Ini kerapkali berlaku di kamar mandi.
Berikut cara mandi yang benar :
1. Pertama siramkan air di telapak kaki.
2. Kemudian dilanjutkan dengan segayung di betis.
3. Segayung di paha.
4. Segayung di perut.
5. Segayung di bahu.
6. Berhentilah sejenak 5-10 detik
👉 Kita akan merasakan seperti uap/ angin yang keluar dari ubun-ubun bahkan meremang, setelah itu lanjutkan dengan mandi seperti biasa.
✅Hikmahnya: Seperti pada gelas yang diisi air panas kemudian kita isi dengan air dingin. Apa yang terjadi?
Gelas akan retak !!!
🚿 Jika tubuh kita .... apa yang retak?
Suhu tubuh kita cenderung panas dan air itu dingin, maka yang terjadi jika kita mandi langsung menyiram pada badan atau kepala, angin yang harusnya keluar jadi terperangkap dan dapat membawa maut karena pecahnya pembuluh darah.
🚿 Maka sebab itu kita sering menjumpai orang jatuh di kamar mandi tiba-tiba kena 'stroke'. Boleh jadi kita sering masuk angin kerana cara mandi kita yang salah. Boleh jadi kita sering migrain kerana cara mandi yang salah.
🚿 Cara mandi ini baik bagi semua peringkat umur terutama yang memunyai sakit diabetes, darah tinggi, kolesterol dan migrain/ sakit kepala sebelah.
Silakan dishare untuk manfaat bersama.

Abdullah bin Mas'ud (Bagian 3)



~عبدالله بن مسعود~


Dan bercerita Al-Qamah bin Qais:
          Biasanya Abdullah bin Mas'ud berpidato setiap hari Kamis sore menyampaikan Hadits. Tidak pernah saya dengar ia mengucapkan, "Telah bersabda Rasulullah SAW," kecuali satu kali saja... disaat itu saya melihat ia bertelekan tongkat, dan tongkatnya itupun bergetar dan bergerak-gerak..."

Dan di ceritakan pula oleh Masruq mengenai Abdullah ini:
"Pada suatu hari Ibnu Mas'ud menyampaikan sebuah Hadits, katanya, "Saya dengar Rasulullah SAW..." Tiba-tiba ia jadi gemetar, dan pakainnya bergetar pula... kemudian katanya, "Atau kira-kira demikian..., atau kira-kira seperti itulah..."

Nah, sampai sejauh inilah ketelitian, penghormatan dan penghargaannya kepada Rasulullah SAW... disamping menjadi bukti ketaqwaannya, ketelitian, dan penghormatannya ini merupakan tanda kecerdasannya...!

Orang yang lebih banyak bergaul dengan Rasulullah SAW, penilaiannya tehadap kemuliaan Rasulullah SAW lebih tepat... dan itulah sebabnya adab sopan santunnya terhadap Rasulullah saw ketika beliau masih hidup, begitupun kenangan kepada beliau setelah wafatnya, merupakan adab sopan santun satu-satunya dan tak ada duanya...!
Ibnu Mas'ud tak hendak berpisah dari Rasulullah saw baik di waktu bermukim maupun di waktu bepergian. Ia telah turut mengambil bagian dalam setiap peperangan dan pertempuran. Dan peranannya dalam perang badar meninggalkan kenangan yang tak dapat di lupakan, yakni rubuhnya Abu Jahal oleh tebusan pedang kaum muslimin pada hari yang keramat itu...

Khalifah-khalifah dan para sahabat Rasulullah SAW mangakui kedudukannya ini, hingga ia diangkat oleh Amirul Mu'minin Umar sebagai Bendaharawan di kota Kufah. Kepada penduduk waktu mengirimnya itu mengatakan:
"Demi Allah yang tiada Tuhan mealinkan dia , sungguh saya lebih mementingkan tuan-tuan dari pada diriku, maka ambilah dan pelajarilah ilmu dari padanya...!"

Dan penduduk Kufah telah mencintainya, suatu hal yang belum pernah di peroleh orang-orang sebelumnya, atau orang yang setaraf dengannya... Sungguh, kebulatan penduduk Kufah untuk mencintai seseorang, merupakan suatu hal yang mirip dengan mu'jizat... sebabnya ialah karena mereka biasa menentang dan memberontak, mereka tidak tahan menghadapi hidangan yang serupa..., dan tidak mampu hidup selalu dalam aman tenteram...!

Dan karena kecintaan mereka kepadanya demikian rupa, sampai-sampai mereka mengerumuni dan mendesaknya sewaktu ia hendak di perhentikan oleh Khlaifah Utsman r.a dari jabatannya, kata mereka, "Tetaplah anda tinggal bersama kami di sini dan jangan pergi, dan kami bersedia membela anda dari mala petaka yang menimpa anda!"

Tetapi dengan kalimat yang menggambarkan kebesaran jiwa dan ketaqwaannya, Ibnu Mas'ud menjawab, katanya, "Saya harus taat kepadanya, dan dibelakang hari akan timbul fitnah, dan saya tak ingin menjadi orang yang mula-mula membukakan pintunya...!"

Pendirian mulia dan terpuji ini mengungkapkan kepada kita hubungan Ibnu Mas'ud dengan khalifah Utsman r.a. Di antara mereka telah terjadi perdebatan dan perselisihan yang makin lama makin sengit, hingga gaji dan tunjangan pensiunannya di tahan dari baitulmal. Walau demikian, tidak sepatah kata pun yang tidak baik, kelauar dari mulutnya mengenai Utsman, bahkan ia berdiri sebagai pembela dan memperingatkan rakyat ketika di lihatnya persekongkolan di masa Utsman itu telah meningkat menjadi suatu pemberontakan. Dan ketika terbetik berita ketelinganya mengenai percobaan untuk membunuh Khalifah Utsman itu, keluarlah dari mulutnya ucapan yang terkenal:
"Sekiranya mereka membunuhnya, maka tak ada lagi orang yang sebanding dengannya yang akan mereka angkat sebagai khalifah..." Dalam pada itu, di antara kawan-kawan Ibnu Mas'ud ada yang berkata, "tak pernah saya dengar Ibnu Mas'ud mengeluarkan cercaan satu kata pun terhadap Utsman..."


Allah SWT telah menganugerahinya hikmah sebagaimana telah memberinya sifat taqwa. Ia memiliki kemampuan untuk melihat yang jauh ke dasar yang dalam, dan mengungkapnya secara menarik dan tepat.
Marilah kita dengar ucapannya yang menggambarkan kesimpulan hidup yang istimewa dari Umar dengan kata-kata singkat tapi padat dan mena'jubkan, katanya, "Islamnya mereka suatu kemenangan..., hijrahnya mereka pertolongan..., sedang pemerintahannya menajdi suatu rahmat."

Berbicara tentang apa yang dikatakan orang seakrang tentang relativitas masa, ia mengatakan, "Bagi Tuhan kalian tiada siang dan malam...! Cahaya langit dan bumi itu bersumber dari cahayanya...!"
Ia juga berbicara tentang pekerja dan betapa pentingnya mengangkat taraf budaya kaum pekerja ini katanya, "Saya amat benci melihat seorang laki-laki yang menganggur tak ada usahanya untuk kepentingan dunia, dan tidak pula untuk kepentingan akhirat."

Dan diantara kata-katanya yang bersayap ialah:
"Sebaik-baik kaya ialah kaya hati; sebaik-baik bekal ialah taqwa; seburuk-buruk buta ialah buta hati; sebesar-besar dosa ialah berdusta; sejelek-jelek uasaha ialah memungut riba; seburuk-buruk makanan ialah memakan harta anak yatim; siapa yang memaafkan orang akan di maafkan Allah; dan siapa yang mengampuni orang akan diampuni Allah."


Nah, itulah gambaran singkat Abdullah bin Mas'ud sahabat Rasulullah SAW; dan itulah dia, kilasan dari suatu kehidupan besar dan perkasa yang dilalui pemiliknya di jalan Allah dan Rasul-Nya serta Agama-Nya.


Itulah dia, laki-laki yang ukuran tubuhnya seumpama tubuh burung merpati, kurus dan pendek, hingga badannya tidak akan berapa bedanya dengan orang yang sedang duduk. Kedua betisnya kecil dan kempes, yang tampak ketika ia memanjat dan memetik dahan pohon arak untuk digunakan Rasulullah SAW. Para sahabat sama menetertawakannya ketika melihat kedua betisnya itu. Maka bersabdalah Rasulullah SAW, "Tuan-tuan menetertawkan betis Ibnu Mas'ud , keduanya disisi Allah lebih berat timbangannya dari gunung Uhud!"

Memang, inilah dia orang yang berasal dari keluarga miskin, buruh upahan, kurus dan hina, tetapi keyakinan dan keimanannya telah menjadikannya saah seorang imam di antara imam-imam kebaikan, petunjuk dan cahaya.
Ia telah di karunia taufiq dan ni'mat oleh Allah yang menyebabkannya termasuk dalam golongan "sepuluh orang sahabat Rasulullah SAW yang pertama masuk Islam," yakni orang-orang yang selagi hidupnya telah menerima berita gembira beroleh ridla Allah SWT dan surga-Nya.

Ia telah terjun dan tak pernah absen dalam setiap perjuangan yang berakhir dengan kemenangan di masa Rasulullah saw, begitupun di masa Khalifah sepeninggal beliau. Dan dia turut menyaksikan dua buah imperiaum dunia membukakan pintunya dengan tunduk dan patuh di masuki panji-panji Islam dan ajarannya.
Disaksikannya jabatan-jabatan yang tersedia dan menunggu orang-orang Islam yang mau mendudukinya, begitu pun harta yang tidak terkira banyaknya bertumpuk-tumpuk di hadapan mereka, tetapi tidak satupun yang mengusik dan melupakannya dari janji yang telah di ikrarkannya kepada Allah SWT dan Rasul-Nya, atau merintangi dari garis hidup dan ketekunan ibadat yang di liputi rasa khsusu' dan tawadlu'.
Dan diantar keinginan dan cita-cita hidup, tidak satupun yang menarik hatinya kecuali sebuah, yakni yang selalu di rindukan, menjadi bauh bibir dan senandungnya, serta menjadi angan-angan untuk mendapatkannya.

Nah, marilah kita simak, kata-kata yang ia sendiri menceritakan hal itu kepada kita:
"Aku bangun di tengah malam, ketika itu aku mengikuti Rasulullah SAW di perang Tabuk. Maka tampaklah olehku nyala api di pinggir perkemahan, lalu kudekati untuk melihatnya. Kiranya Rasulullah SAW bersama Abu Bakar dan Umar. Rupanya mereka sedang menggali kuburan untuk Abdullah Dzulbijadain An-Muzanni yang ternyata telah wafat. Rasulullah SAW ada di dalam lubang kubur itu, sementara Abu Bakar dan Umar mengulurkan jenazah kepadanya. Rasulullah SAW bersabda, "Ulurkanlah lebih dekat padaku saudara tuan-tuan itu...! Lalu mereka mengulurkan kepadanya. Dan tatkala di letakkannya di lubang lahat, beliau berdo'a, "Ya Allah, aku telah ridla kepadanya, maka ridla'i pula ia oleh-Mu! Alangkah baiknya sekiranya akulah yang menjadi pemilik liang kubur itu!"

Nah, itulah dia satu-satunya cita-cita yang di harapkan dan di angan-angankan selagi hidupnya.
Dan sebagai anda ketahui, ia tak pernah mencari kesempatan untuk mendapatkan sesuatu untuk di kejar-kejar dan di perebutkan orang, berupa kemuliaan, kekayaan, pengaruh atau jabatan.
Hal ini karena cita-citanya adalah cita-cita seorang tokoh yang mendapat petunjuk dari Allah SWT memperoleh tuntutan dari Al-Qur'an, dan menerima didikan dari Rasulullah SAW.
Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid
Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia


Abdullah bin Mas'ud (Bagian 2)




~عبدالله بن مسعود~

Sungguh, tidak meleset kiranya pandangan jauh Rasulullah SAW ketika beliau mengatakan padanya, "Kamu akan menjadi seorang pemuda terpelajar." Ia telah di beri pelajaran oleh Tuhannya hingga menjadi faqih atau ahli hukum ummat Muhammad saw, dan tulang punggung para huffadh Al-Qur'anul Karim.
Mengenai dirinya ia pernah mengatakan, "Saya telah menampung 70 surat Al Qur'an yang dengan langsung dari Rasulullah saw tiada seorang pun yang menyaingiku dalam hal ini..."

Dan rupanya Allah SWT memberinya anugerah atas keberaniannya mempertaruhkan nyawa dalam mengumandangkan Al-Qur'an secara terang-terangkan dan menyebarluaskannya di segenap pelosok kota Mekah di saat siksaan dan penindasan merajalela, maka di anugerahi-Nya bakat istimewa dalam membawakan bacaan Al-Qur'an dan kemampuan luar biasa dalam memahami arti dan maksudnya.

Rasulullah saw telah memberi wasiat kepada para sahabat agar mengambil Abdullah bin Mas'ud sebagai teladan, sabda Rasulullah SAW, "Berpegangteguhlah pada kepada ilmu yang diberikan oleh ibnu ummi 'Abdin...!
Diwashiatkannya pula agar mencontoh bacaannya, dan mempelajari cara membaca Al-Qur'an dari padanya. Sabda Nabi SAW, "Barang siapa yang ingin hendak membaca Al Qur'an tepat seperti di turunkan, hendaklah ia membacanya seperti Ibnu Ummi 'Abdin...!"

Sungguh, telah lama Rasulullah menyenangi bacaan Al-Qur'an dari mulut Ibnu Mas'ud...
Pada suatu hari ia memanggilnya sabdanya, "Bacakanlah kepadaku, hai Abdullah!"
"Haruskah aku membacakannya pada anda, wahai Rasulullah...?"
Jawab Rasulullah, "Saya ingin mendengarnya dari mulut orang lain."

Maka Ibnu Mas'ud pun membacanya di mulai dari surat An-Nisa hingga pada sampai firman Allah ta'ala, "Maka betapa jadinya bila Kami jadikan dari setiap ummat itu seorang saksi, sedangkan kamu Kami jadikan sebagai saksi bagi mereka...! Ketika orang-orang kafir yang mendurhakai Rasulullah SAW sama berharap kiranya mereka disama ratakan dengan bumi...! Dan mereka tidak dapat merasahasiakan pembicaraan dengan Allah...!" (Q. S. An-Nisa: 41-42)
Maka Rasulullah SAW tak dapat menahan tangisnya, air matanya meleleh dan dengan tangannya di isyaratkan kepada Ibnu Mas'ud yang maksudnya, "Cukup..., cukuplah sudah, hai Ibnu Mas'ud...!"

Suatu ketika pernah pula Ibnu Mas'ud menyebut-nyebut karunia Allah kepadanya, katanya, "Tidak suatu pun dari Al-Qur'an itu yang di turunkan, kecuali aku mengetahui mengenai peristiwa apa yang di turunkannya. Dan tidak seorangpun yang lebih mengetahui tentang Kitab Allah daripadaku. Dan sekiranya aku tahu ada seseorang yang dapat di capai dengan berkendaraan unta dan ia lebih tahu tentang Kitabullah daripadaku, pastilah aku akan menemuinya. Tetapi aku bukanlah yang terbaik di antaramu!"

Keistimewaan Ibnu Mas'ud ini telah diakui oleh para sahabat. Amirul Mu'minin, Umar, berkata mengenai dirinya, "Sungguh ilmunya tentang fiqih berlimpah-limpah."
Dan berkata Abu Musa Al Qur'an-Asy'ari, "Jangan tanyakan kepada kami sesuatu masalah selama kyai ini berada pada tuan-tuan!"
Tidak hanya keunggulannya dalam Al-Qur'an dan ilmu fiqih saja yang patut beroleh pujian, tetapi juga keunggulannya dalam keshalihan dan ketakwaan.

Berkata Hudzaifah tentang dirinya, "Tidak seorangpun saya lihat yang lebih mirip Rasulullah saw baik dalam cara hidup, perilaku dan ketenangan jiwanya, dari pada Ibnu Mas'ud... dan orang-orang yang di kenal dari sahabat-sahabat Rasulullah saw sama mengetahui bahwa puteranya dari Ummi 'Abdin adalah yang paling dekat kepada Allah...!"

Pada suatu hari serombongan sahabat berkumpul pada Ali Karamullahu Wajhah (semoga allah memuliakan wajah atau dirinya), lalu kata mereka kepadanya, "Wahai Amirul Mu'minin, kami tidak melihat orang yang lebih berbudi pekerti, lebih lemah lembut dalam mengajar, begitupun yang lebih baik pergaulannya, dan lebih shalih dari pada Abdullah bin Mas'ud...!" Ujar Ali, "Saya minta tuan-tuan bersaksi kepada Allah, apakah ini betul-betul tulus dari hati tuan-tuan...?" "Benar," ujar mereka.

Kata Ali pula, "Ya Allah, saya mohon Engkau menjadi saksinya,bahwa saya berpendapat mengenai dirinya seperti apa yang mereka katakan itu, atau lebih baik dari itu lagi... Sungguh, telah di bacanya Al Qur'an, maka dihalalkannya barang yang halal dan di haramkannya barang yang haram..., seorang yang ahli dalam soal keagamaan dan luas ilmunya tentang as-Sunnah...!"

Suatu ketika para sahabat memperkatakan pribadi Abdullah bin Mas'ud, kata mereka, "Sungguh, sementara kita terhalang, ia diberi restu, dan sementara kita bepergian, ia menyaksikan (tingkah laku Rasulullah SAW)..."


Maksud mereka ialah bahwa Abdullah bin Mas'ud beruntung mendapat kesempatan berdekatan dengan Rasulullah saw, suatu hal yang jarang di dapat oleh orang lain. Ia lebih sering masuk kerumah Rasulullah SAW dan menjadi teman duduknya. Dan lebih-lebih lagi ia ialah tempat Rasulullah SAW menumpahkan keluhan dan mempercayakan rahasianya, hingga ia di beri gelar "Peti Rahasia."

Berkata Abu Musa Al-Qur'an-Asy'ari, "Sungguh setiap saya melihat Rasulullah saw, pastilah Ibnu Mas'ud berada menyertainya..."
Adapun yang menjadi sebab ialah karena Rasulullah SAW amat menyayanginya, terutama keshalihan dan kecerdasannya serta kebesaran jiwanya, hingga Rasulullah SAW pernah bersabda mengani dirinya, "Seandainya saya hendak mengangkat seseorang sebagai amir tanpa musyawarat dengan kaum muslimin, tentulah yang saya angkat itu Ibnu Ummi 'Abdin..."

Dan telah kita kemukakan wasiat Rasulullah SAW kepada para sahabatnya, "Berpegang teguhlah kepada ilmu Ibnu Ummi 'Abdun!"
Maka kesayangan dan kepercayaan ini memungkinkannya untuk bergaul rapat dengan Rasulullah saw, hingga ia beroleh hak yang tidak di berikannya kepada orang lain, bersabda Rasulullah SAW kepadanya, "Saya idzinkan kamu bebas dari tabir hijab...!"
Ini merupakan lampu hijau bagi Ibnu Mas'ud untuk masuk rumah Rasulullah saw dan pintunya senantiasa terbuka baginya, biar siang maupun malam, dan inilah yang pernah di perkatakan oleh para sahabat , "Sementar kita terhalang, ia di beri izin, dan sementara kita bepergian, ia menyaksikan..."

Dan memang Ibnu Mas'ud banyak untuk memeproleh keistimewaan ini... Karena walupun pergaulan rapat seperti ini akan memberikan padanya keuntungan, tetapi Ibnu Mas'ud hanya bertambah khusu', tambah hormat dan sopan santun...

Mungkin gambar yang melukiskan akhlaknya secara tepat, ialah sikapnya ketika menyampaikan hadith dari Rasulullah SAW setelah beliau wafat. Walaupun ia jarang menyampaikan hadits dari Rasulullah SAW, tetapi kita lihat setiap ia menggerakan kedua bibirnya untuk mengatakan, "Saya dengar Rasulullah saw menyampaikan hadits dan bersabda...," maka tubuhnya gemetar dengan amat sangat, dan ia tampak gugup dan gelisah. Sebabnya tiada lain karena takutnya akan alpa, hingga bersalah menaruh kata di tempat yang lain...!

Marilah kita dengarkan kawan-kawanya melukiskan gejala-gejala ini! Berkatalah 'Amar bin Maimun:


"Saya bolak-bolak kerumah Abdullah bin Mas'ud ada setahun lamanya, dan selama itu tak pernah saya dengar ia menyampaikan hadits dari Rasulullah SAw, kecuali sebuah hadits yang di sampaikannya pada suatu hari. Dari mulutnya mengalir ucapan: 'Telah bersabda Rasulullah SAW, tiba-tiba ia kelihatan gelisah hingga tanpak keringat bercucuran dari keningnya.' Kemudian katanya megulangi kata-kata yang tadi, 'Kira-kira demikianlah disabdakan oleh Rasulullah SAW...'"

Abdullah bin Mas'ud (Bagian 1)




~عبدالله بن مسعود~ 
Ia adalah orang yang pertama kali mengumandangkan Al-Qur'an dengan suara merdu.
Sebelum Rasulullah masuk kerumah Arqam, Abdullah bin Mas'ud telah beriman kepadanya dan merupakan orang keenam yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah SAW. Dengan demikian, ia termasuk golongan pertama yang masuk Islam.
Pertemuannya yang mula-mula dengan Rasulullah itu diceritakannya sebagi berikut:

"Ketika itu saya masih remaja, mengembalakan kambing kepunyaan 'Uqbah bin Mu'aith. Tiba-tiba datang Nabi Muhammad SAW bersama Abu bakar, dan bertanya, "Hai nak, apakah kamu punya susu untuk minuman kami? "Aku orang kepercayaan," ujarku, "dan tak dapat memberi anda minuman...!"

Maka sabda Nabi SAW, "Apakah kamu punya kambing betina mandul yang belum dikawini oleh yang jantan...?" "Ada," ujarku. Lalu saya bawa ia kepada mereka. Kambing itu diikat kakinya oleh Nabi lalu di sapu susunya sambil memohon kepada Allah SWT. Tiba-tiba susu itu berair banyak, kemudian Abu Bakar mengambilkan sebuah batu cembung yang di gunakan Nabi untuk menampungan perahan susu. Lalu Abu bakar minumlah dan saya pun tidak ketinggalan... setelah itu, Nabi menitahkan kepada susu, "Kempislah!" maka susu itu menjadi kempis...


Setelah peristiwa itu saya mendatangi Nabi, kataku, "Ajarkanlah kepadaku kata-kata tersebut!" Ujar Nabi SAW, " Engkau akan menjadi seorang anak yang terpelajar!"
Alangkah heran dan ta'jubnya Ibnu Mas'ud ketika menyaksikan seorang hamba Allah yang shalih dan utusan-Nya yang di percaya memohon kepada Tuhannnya sambil menyapu ke susu hewan yang belum pernah berair selama ini, tiba-tiba mengeluarkan kurnia dan rizqi dari Allah berupa air susu murni yang enak buat di minum...!

Pada saat itu belum disadarinya bahwa peristiwa yang disaksikannya itu hanyalah merupakan mu'jizat paling enteng dan tidak begitu berarti, dan bahwa tidak berapa lama lagi dari Rasulullah SAW yang mulia ini akan di saksikannya mu'jizat yang akan mengguncangkan dunia dan memenuhinya dengan petunjuk serta cahaya.


Bahkan pada saat itu juga belum di ketahuinya, bahwa yang dirinya sendiri yang ketika itu masih seorang remaja yang lemah lagi miskin, yang menerima upah sebagai pengembala kambing milik 'uqbah bin Mu'aith, akan muncul sebagai salah satu dari mu'jizat ini, yang setelah di tempa oleh Islam akan menjadi seorang beriman, dan akan mengalahkan kesombongan orang-orang Quraisy dan menaklukan kesewenangan para pemukanya.

Maka ia, yang selama ini tidak berani lewat dihadapan salah seorang pembesar Quraisy kecuali dengan menjingkatkan kaki dan menundukan kepala, di kemudian hari setelah masuk Islam, ia tampil di didepan para majlis para bangsawan si sisi Ka'bah, sementara semua pemimpin dan pemuka Quraisy duduk berkumpul, lalu berdiri di hadapan mereka dan mengumandangkan suaranya yang merdu dan membangkitkan minat, berisikan wahyu Illahi Al-Qur'anul Karim:

"Bismillahirrahmaanirrahiim... Allah yang Maha Rahman... Yang telah mengajarkan Al-Qur'an... Menciptakan insan... Dan menyampaikan padanya penjelasan... Matahari dan bulan beredar menurut... Perhitungan... Sedang bintang dan kayu-kayuan sama... Sujud kepada Tuhan...
Lalu di lanjutkannya bacaanya, sementara pemuka-pemuka Quraisy sama terpesona, tidak percaya akan pandangan mata dan pendengaran telinga mereka... dan tak tergambar dalam fikiran mereka bahwa orang yang menantang kekuasaan dan kesombongan mereka..., tidak lebih dari seorang upahan di antara mereka, dan pengembala kambing dari salah seorang bangsawan Quraisy... yaitu Abdullah bin Mas'ud, seorang yang miskin yang hina dina...!

Marilah kita dengan keterangan dari saksi mata melukiskan peristiwa yang amat manarik dan mena'jubkan itu! Orang itu tiada lain dari Zubair r.a. katanya:
"Yang mula-mula menderas Al-Qur'an di Mekah setelah Rasulullah SAW adalah Abdullah bin Mas'ud r.a. pada suatu hari para sahabat Rasulullah SAW berkumpul, kata mereka, "Demi Allah orang-orang Quraisy belum lagi mendengar sedikitpun Al-Qur'an ini di baca dengan suara keras di hadapan mereka. Nah, siapa diantara kita yang bersedia mendengarkannya kepada mereka...?"


Maka kata Abdullah bin Mas'ud, "Saya." Kata mereka, "Kami khawatir akan keselamatan dirimu! Yang kami inginkan adalah seorang laki-laki yang mempunyai kerabat yang akan mempertahankan dari orang-orang itu jika mereka bermaksud jahat..." "Biarkanlah saya!"kata Abdullah bin Mas'ud pula, "Allah pasti membela." 
Maka datanglah Abdullah bin Mas'ud kepada kaum Quraisy di waktu Dhuha, yakni ketika mereka berada di balai pertemuannya... Ia berdiri di panggung lalu membaca "Bismillahirrahmaanirrahiimi" dan dengan mengeraskannya suaranya; 

Arrahman...'allamal Qur'an...
Lalu sambil menghadap kepada mereka di terusksanlah bacaannya. Mereka memperhatikannya sambil bertanya sesamanya, "Apa yang di baca oleh anak si Ummu'Abdin itu...? Sungguh, yang dibacanya itu ialah yang dibaca oleh Muhammad!"

Mereka bangkit mendatanginya dan memukulinya, sedang Abdullah bin Mas'ud membacanya sampai batas yang di kehendaki Allah... Setelah itu dengan muka dan tubuh yang babak belur ia kembali kapada para sahabat. Kata mereka, "Inilah yang kami khawatirkan tentang dirimu...!" Ujar Abdullah bin Mas'ud, "Sekarang ini tak ada yang lebih mudah bagiku dari menghadapi musuh-musuh Allah itu! Dan seandainya tuan-tuan menghendaki, saya akan mendatangi mereka lagi dan berbuat yang sama esok hari...!" Ujar mereka, "Cukuplah demikian! Kamu telah membacakan kepada mereka barang yang menjadi tabu bagi mereka!"

Benar, pada saat Abdullah bin Mas'ud tercengang melihat susu kambing tiba-tiba berair sebelum waktunya, belum menyadari bahwa ia bersama kawan-kawan senasib dari golongn miskin tidak berpunya, akan menjadi salah satu mu'jizat besar dari Rasulullah saw, yakni ketika mereka bangkit memanggul panji-panji Allah dan menguasai dengannya cahaya siang dan sinar matahari. Tidak di ketahuinya bahwa saat itu telah dekat... Kiranya secepat itu hari datang dan lonceng waktu telah berdentang, anak remaja buruh miskin dan terlunta-lunta serta merta menjadi suatu mu'jizat di antara berbagai mu'jizat Rasulullah SAW ...!

Dalam kesibukan dan perpacuan hidup, tiadalah ia akan menjadi tumpuan mata... Bahkan di daerah yang jauh dari kesibukan pun juga tidak...! Tak ada tempat baginya di kalangan hartawan, begitupun di dalam lingkungan ksatria yang gagah perkasa, atau dalam deretan orang-orang yang berpengaruh.


Dalam soal harta, ia tak punya apa-apa, tentang perawakan ia kecil dan kurus, apalagi dalam soal pengaruh, maka derajatnyapun di bawah... tapi sebagai ganti dari kemiskinnaya itu, Islam telah memberinya bagian yang melimpah dan perolehan yang cukup dari perbendaharaan Kisra dan simpanan Kaisar. Dan sebagai imbalan dari tubuh yang kurus dan jasmani yang lemah, di anugerahi-Nya kemauan baja yang dapat menundukan para adikara dan ikut mengambil bagian dalam merubah jalan sejarah. 

Dan untuk mengimbangi nasibnya yang tersia terlunta-lunta, Islam telah melimpahnya ilmu pengetahuan, kemuliaan, serta ketetapan yang menampilkannya sebagai salah seorang tokoh terkemuka dalam sejarah kemanusiaan.

ABDULLAH IBNU HUDZAFAH AS SAHMIY RA.(Bagian 2)


Pejabat tadi menjalankan instruksi Heraklius dengan baik. Tetapi Abdullah tetap menolak minum khamr, dan berkata : “minuman ini tidak halal aku minum”. Dan Abdullah hampir mati kehausan. Pejabat tadi melaporkan keadaan Abdullah yang hampir mati kepada Heraklius karena menolak minum khamr, dengan mengatakan : “Jika tuan masih membutuhkannya maka berikan ia makan dan biarkan ia minum sesukanya, sebelum ia mati”. Kata Heraklius : “ Kalau begitu berikania makan dan minum yang disukai. Aku telah uji dia dengan penderitaan namun gagal, maka akan aku uji dia dengan kesenangan. Berikan kepadanya makanan yang paling enak, minuman yang paling segar, dan perempuan yang paling cantik. Semoga yang ini tidak gagal”

Pejabat  tadi menunaikan perintah Heraklius dengan baik. Disediakanlah makanan yang lezat, minuman yang segar dan permpuan yang cantik untuk Abdullah sebagaimana pesan kaisar. Abdullah tidak tergoda, ia hanya makan seperlunya, minum seperlunya, tidak mengganti pakaian sebelum lusuh dan kotor, tidak sedikitpun melirik perempuan cantik itu.   Ketika Heraklius bertanya kepada perempuan itu : “Adakah getaran orang itu kepadamu ?” Jawab wanita itu : “Tidak. Demi Tuhan, ia tidak sedikitpun melirikku”.

Setelah  itulah Heraklius memanggil Abdullah dan berkata : “Sesungguhnya aku telah mengujimu dengan suak dan duka, namun engkau tetap tegar dn sabar. Sekarang maukah kamu mencium kepalaku dan aku akan bebaskan kamu sendirian ? Jawab Abdullah : “Tidak. Saya tidak akan mau mencium kepala Kaisar, jika hanya saya sendiri yang bebas”. Kata Heraklius selanjutnya : “Jadi kamu mau mencium kepalaku agar aku membebaskan seluruh tawanan muslim yang ada ? Jawab Abdullah : “Ya”. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abdullah telah dirayu Heraklius untuk meninggalkan Islam dan mengikuti agamanya, lalu dinikahkan dengan salah seorang putrinya dan menjadi pejabat khusus di Romawi. Tetapi Abdulah menolak semua.

Abdullah mencium kepala Heraklius dan Heraklius menyerahkan seluruh tawanan Islam kepada Abdullah yang berjumlah 80 (delapan puluh) orang. Kemudian Abdullah pulang ke Madinah menemui Khalifah Umar bin Khatthab. Abdullah menceritakan pengalamannya dengan Heraklius kepada Umar. Mendengar cerita itu seger Umar bangkit dan menciumi kepala Abdullah bin Hudzafah dan berkata : “ Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu). Mengapa ketika kamu berada dalam keterpaksaan tidak mau makan daging babi atau minum khamr? Jawab Abdullah : “Wallahi (demi Allah) wahai Amirul Mukminin, saya sadar bahwa hal itu diperbolehkan untukku. Tetapi saya tidak ingin Heraklius dan orang Romawi mencela Islam dan pemeluknya (yang juga makan daging babi dan minum khamr)”.

Semoga Allah merahmati Abdullah bin Hudzafah dengan rahmat yang seluas-luasnya. Ia telah menancapkan tonggak keteladanan hakiki sebagaimana yang pernah Nabi ajarkan.

Wallahu a’lam.



ABDULLAH IBNU HUDZAFAH AS SAHMIY RA. (Bagian 1)

“Tidak beriman salah seorang di antaramu, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” Muttafaq alaih

Abdullah ibn Hudzafah ibn Qais As Sahmiy ra. Adalah seorang sahabat muhajirin terkenal. Termasuk dalam pereode  awal pemeluk Islam. Ikut hijrah ke Habsyi. Rasulullah pernah mengutusnya mengirimkan surat kepada Kisra Persia sewaktu Rasulullah mengirimkan surat-surat ajakan Islam kepada para raja. Abdullah bin Hudzafah ikut menyaksikan penaklukan Mesir dari tangan Romawi di masa Umar, dan wafat di Mesir pada masa Utsman bin Affan, tahun 33H.

Mauqif (sikap) terkesan yang dikenang dari sahabat ini adalah keteguhan pendiriannya di hadapan Heraklius, Kaisar Romawi. Peragaan sikap itsar (mendahulukan orang lain) di kalangan sahabat yang terjadi pada generasi pertama umat ini. Ia membuktikan hadits Nabi : “Tidak beriman salah seorng di antaramu, sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” Muttafaq alaih dengan peragaan yang sempurna, sebagaimana pelajaran yang diporoleh dari Rasulullah, pendidik utamanya.

Ketika kekuasaan Islam mulai kuat di Syam, di bawah pimpinan gubernur Muawiyah bin Abu Sufyan ra, yang diangkat Umar bin Khatthab. Datang perintah dari Umar untuk menghadang serangan Romawi yang masih berada di sekitar Syam. Pesan Umar itu berbunyi : “Lawanlah Romawi dan tunjukkan Abdullah bin Hudzafah sebagai pimpinannya”.  Maka berangkatlah Abdullah bin Hudzafah bersama pasukannya menghadang tentara Romawi. Abdullah mampu memukul mundur tentara Romawi.

Pada saat demikian, ketika Abdullah tinggal bersama sebagian kecil pasukannya tiba-tiba ia mendapatkan serangan mendadak dari pasukan besar tentara Romawi. Dan akhirnya Abdullah bersama pasukannya menjadi tawanan Romawi.

Ketika diserahkan kepada Kaisar Heraklius di Konstantinopel, tentara Romawi berkata kepada kaisarnya : “Orang ini bernama Abdullah bin Hudzafah. Orang dari Quraisy, termasuk sahabat yang sangat dekat dengan Nabinya”. Sebelumnya Heraklius sempat mendengar berita-berita tentang sahabat Nabi yang sangat menakjubkannya. Sikap para sahabat dengan tentaranya. Heraklius sangat penasaran dengan para sahabat ini yang mampu mengusirnya dari Syam dengan hina, padahlah pasukan sahabat itu kecil dan pasukan Heraklius cukup besar. Heraklius sangat ingin bertemu dengan para sahabat itu untuk selanjutnya menguji, manusia jenis apakah mereka ini? Sehingga begitu istimewa kemampuannya.

Heraklius menyerahkan Abdullah bin Hudzafah kepada salah seorang pimpinan Romawi, dengan berpesan : “ Laparkan dia, jangan diberi makan, lalu berikanlah daging babi kepadanya”. Menerima pesan itu, pejabat Roma tadi tunaikan dengan baik. Abdullah tidak diberi makan hingga kelaparan, lalu diberikan daging babi, disajikan di hadapan Abdullah. Abdullah tidak maumenyentuhnya dan berkata : “Makanan ini tidak halal bagikut bagiku memakannya”. Dan Abdullah menolak makan daging itu,  walaupun ia sangat lapar dan hampir mati.


Pejabat tadi melaporkan keadaan Abdullah kepada Heraklius. Herkalius merubah pesannya : “Berikan makanan yang ia suka, selain daging babi, tetapi jangan diberi minum agar ia kehausan, lalu berikan ia minuman keras jika ia sudah kehausan”. 

Said bin 'Amir (Bagian 4)

Corak sekolah yang telah memberikan bimbingan dan meniupkan inspirasi manakah Agama Islam ini . . .?
Tetapi mungkinkah bumi dapat memikul di atas punggungnya jumlah yang cukup banyak dari tokoh-tokoh berkwalitas demikian? Sekiranya mungkin, tentulah ia tidak disebut bumi atau dunia lagi..., lebih tepat bila dikatakan Surga Firdausi... Sungguh, ia telah menjadi Firdaus yang telah dijanjikan Allah! Dan karena Firdaus itu belum tiba waktunya, maka orang-orang yang lewat di muka bumi dan tampil di arena kehidupan dari tingkat tinggi dan mulia seperti ini amat sedikit dan jarang adanya... 

Dan Sa'id bin 'Amir adalah salah seorang di antara mereka...
Uang tunjangan dan gaji yang diperolehnya banyak sekali, sesuai dengan kerja dan jabatannya, tetapi yang diambilnya hanyalah sekedar keperluan diri dan isterinya, sedang selebihnya dibagi-bagikan kepada rumah-rumah dan keluarga-keluarga lain yang membutuhkannya.

Suatu ketika ada yang menasihatkan kepadanya, "Berikanlah kelebihan harta ini untuk melapangkan keluarga dan famili isteri anda!" Maka ujarnya, "Kenapa keluarga dan ipar besanku saja yang harus lebih kuperhatikan? Demi Allah, tidak. Saya tak hendak menjual keridlaan Allah dengan kaum kerabatku!"


Memang telah lama dianjurkan orang kepadanya, "Janganlah ditahan-tahan nafqah untuk diri pribadi dan keluarga anda, dan ambillah kesempatan untuk meni'mati hidup."
Tetapi jawaban yang keluar hanyalah kata-kata yang senantiasa diulang-ulangnya, "Saya tak hendak ketinggalan dari rombongan pertama, yakni setelah saya dengar Rasulullah SAW bersabda, "Allah 'Azza wa Jalla akan menghimpun manusia untuk dihadapkan ke pengadilan. Maka datangtah orang-orang miskin yang beriman, berdesak-desakkan maju ke depan lak ubahnya bagai kawanan burung merpati. Lalu ada yang berseru kepada mereka: Berhentilah kalian untuk menghadapi perhitungan! Ujar mereka, "Kami tak punya apa-apa untuk dihisab." Maka Allah pun berfirman, "Benarlah hamba-hamba-Ku itu...Lalu, masuklah mereka ke dalam surga sebelum orang-orang lain masuk..."


Dan pada tahun 20 Hijriyah dengan lembaran yang paling bersih, dengan hati yang paling suci dan dengan kehidupan yang paling cemerlang. Sa'id bin 'Amir pun menemui Allah. Telah lama sekali rindunya terpendam untuk menyusul rombongan perintis, yang hidupnya telah dinadzarkannya untuk memelihara janji dan mengikuti langkah mereka. Sungguh, rindunya telah tiada terkira untlik dapat menjurnpai Rasul yang menjadi gurunya, serta teman sejawatnya yang shalih dan suci...!

 Maka sekarang ia akan menernui mereka dengan hati tenang, jiwa yang tenteram dan beban yang ringan . Yang tak ada beserta atau di belakangnya beban dunia atau harta benda yang akan memberati punggung atau menekan bahunya. Tak ada yang dibawanya kecuali zuhud, keshalihan dan ketaqwaannya serta kebenaran jiwa dan budi baiknya. Semua itu adalah keutamaan yang akan memberatkan daun timbangan, dan sekali-kali takkan memberatkan beban pikulan.Keistimewaan tersebut dipergunakan oleh pemiliknya untuk menggoncang dunia, dan dijadikan pegangan yang kokoh sehingga tak tergoyahkan oleh tipu daya dunia.

Selamat bahagia bagi Sa 'id bin 'Amir...! Selamat baginya, baik selagi hidup maupun setelah wafatnya...!
Selamat, sekali lagi selamat, terhadap riwayat dan kenang-kenangannya. Serta selamat bahagia pula bagi para shahabat Rasulullah, yakni orang-orang mulia dan gemar beramal serta rajin beribadat...!


Sumber: Karakteristik Perihidup Enam Puluh Shahabat Rasulullah, Khalid Muh. Khalid
Al-Islam, Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia


Said bin 'Amir (Bagian 3)

         Suatu ketika, tatkala Amirul Mu'minin Umar berkunjung ke Homs, ditanyakannya kepada penduduk yang sedang berkurnpul lengkap, "Bagaimana pendapat kalian tentang Sa'id?"
Sebagian hadirin tampil mengadukannya, tetapi rupanya pengaduan itu mengandung barkah karena dengan demikian terungkaplah dari satu segi kebesaran pribadi tokoh kita ini, kebesaran yang amat menakjubkan serta mengesankan!

Dari kelompok yang mengadukan itu Urnar meminta agar mereka mengernukakan titik-titik kelemahannya satu derni satu. Maka atas nama kelornpok tersebut majulah pembicara yang mengatakan, "Ada empat hal yang hendak kami kemukakan: Pertama, ia baru keluar mendapatkan kami setelah tinggi hari.

Kedua, tak hendak melayani seseorang di waktu malam hari. Ketiga, Setiap bulan ada dua hari di mana ia tak hendak keluar mendapatkan kami hingga kami tak dapat menernuinya. Dan keempat, sewaktu-waktu ia jatuh pingsan."

Umar tunduk sebentar dan berbisik memohon kepada Allah, katanya, "Ya Allah, hamba tahu bahwa ia adalah hamba-Mu terbaik, maka hamba harap firasat hamba terhadap dirinya tidak meleset."

Lalu Sa'id dipersilahkan untuk membela dirinya, ia berkata, "Mengenai tuduhan mereka bahwa saya tak hendak keluar sebelum tinggi hari, maka demi Allah, sebetulnya saya tak hendak menyebutkannya. Keluarga kami tak punya khadam atau pelayan, maka sayalah yang mengaduk tepung dan membiarkannya sampai mengeram, lalu saya membuat roti dan kemudian wudlu untuk shalat dluha. 

Setelah itu barulah saya keluar menemuni mereka."
Wajah Umar berseri-seri, dan katanya, "Alhamdulillah, dan mengenai yang kedua?"

Sa'id pun melanjutkan pembicaraannya, "Adapun tuduhan mereka bahwa saya tak mau melayani mereka di waktu malam , maka demi Allah saya benci menyebutkan sebabnya. 

Saya telah menyediakan siang hari bagi mereka, dan malam hari bagi Allah Ta'ala. Sedang ucapan mereka bahwa dua hari setiap bulan di mana saya tidak menernui mereka, maka sebabnya sebagai saya katakan tadi - saya tak punya khadam yang akan mencuci pakaian, sedang pakaianku tidak pula banyak untuk dipergantikan. 

Jadi, terpaksalah saya mencucinya dan menunggu sampai kering, hingga baru dapat keluar di waktu petang. Kemudian, tentang keluhan mereka bahwa saya sewaktu-waktu jatuh pingsan, sebabnya karena ketika di Mekah dulu saya telah menyaksikan jauh tersungkurnya Khubaib Al-Anshari. 

Dagingnya dipotong-potong oleh orang Quraisy dan mereka bawa ia dengan tandu sambil mereka menanyakan kepadanya: "Maukah tempatmu ini diisi oleh Muhammad sebagai gantimu, sedang kamu berada dalam keadaan sehat wal 'afiat...? Jawab Khubaib, "Demi Allah, saya tak ingin berada dalam lingkungan anak isteriku diliputi oleh keselamatan dan kesenangan dunia, sementara Rasulullah ditimpa bencana, walau oleh hanya tusukan duri sekalipun! 

Maka setiap terkenang akan peristiwa yang saya saksikan itu, dan ketika itu saya masih dalam keadaan musyrik, lalu teringat bahwa saya berpangku tangan dan tak hendak mengulurkan pertolongan kepada Khubaib, tubuh saya pun gemetar karena takut akan siksa Allah, hingga ditimpa penyakit yang mereka katakan itu."

Sampai di sana berakhirlah kata-kata Sa'id, ia membiarkan kedua bibirnya basah oleh air mata yang suci, mengalir dari jiwanya yang shalih. Mendengar itu, Umar tak dapat lagi menahan diri dan rasa harunya, maka berseru karena amat gembira:
"Alhamdulillah, karena dengan taufiq-Nya firasatku tidak meleset adanya!" Lalu dirangkul dan dipeluknya Sa'id, serta diciurnlah keningnya yang mulia dan bersinar cahaya.
Nah, petunjuk macam apakah yang telah diperoleh makhluq seperti ini...?
Guru dari kaliber manakah Rasulullab SAW itu...?
Dan sinar tembus seperti apakah Kitabullah itu...?

Said bin 'Amir (Bagian 2)


Sa'id menjawab, "Maukah kamu saya tunjukkan yang lebih baik dari rencanamu itu? Kita berada di suatu negeri yang amat pesat perdagangannya dan laris barang jualannya. Maka lebih baik kita serahkan harta ini kepada seseorang yang akan mengambilnya sebagai modal dan akan memperkembangkannya."

"Bagaimana jika perdagangannya rugi?" tanya isterinya.
"Saya akan sediakan borg atau jaminan," ujar Sa'id.
"Baiklah kalau begitu," kata isterinya pula. Kemudian Sa'id pergi keluar, lalu membeli sebagian keperluan hidup dari jenis yang amat bersahaja, dan sisanya yang tentu masih banyak itu dibagi-bagikannya kepada faqir miskin dan orang-orang membutuhkan.


Hari-hari pun berlalu, dan dari waktu ke waktu isteri Sa'id menanyakan kepada suaminya soal perdagangan mereka dan bilakah keuntungannya hendak dibagikan. Semua itu dijawab oleh Sa'id bahwa perdagangan mereka berjalan lancar, sedang keuntungan bertambah banyak dan kian meningkat.

Pada suatu hari isterinya memajukan lagi pertanyaan serupa di hadapan seorang kerabat yang mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Sa'id pun tersenyum lalu tertawa yang menyebabkan timbulnya keraguan dan kecurigaan sang isteri. Didesaknyalah suaminya agar menceritakannya secara terus terang. 

Maka disampaikannya bahwa harta itu telah disedeqahkannya dari semula. Wanita itu pun menangis dan menyesali dirinya karena harta itu tak ada manfaatnya sedikit pun, karena tidak jadi dibelikan untuk keperluan hidup dirinya, dan sekarang tak sedikit pun tinggal sisanya.
Sa'id memandangi isterinya, sementara air mata penyesalan dan kesedihan telah menambah kecantikan dan kemolekannya.

Dan sebelum pandangan yang penuh godaan itu dapat mempengaruhi dirinya, Sa'id menujukkan penglihatan bathinnya ke surga, maka tampaklah di sana kawan-kawannya yang telah pergi mendahuluinya, lalu katanya, "Saya mempunyai kawan-kawan yang telah lebih dulu menernui Allah dan saya tak ingin menyimpang dari jalan mereka, walau ditebus dengan dunia dan segala isinya."

Dan karena ia takut akan tergoda oleh kecantikan isterinya itu, maka katanya pula yang seolah-olah dihadapkan kepada dirinya sendiri bersama isterinya, "Bukankah kamu tahu bahwa di dalam surga itu banyak terdapat gadis-gadis cantik yang bermata jeli, hingga andainya seorang saja di antara mereka menampakkan wajahnya di muka bumi, maka akan terang-benderanglah seluruhnya, dan tentulah cahayanya akan mengalahkan sinar matahari dan bulan. 

Maka mengurbankan dirimu demi untuk mendapatkan mereka, tentu lebih wajar dan lebih utama daripada mengurbankan mereka demi karena dirimu."
Diakhirinya ucapan itu sebagaimana dimulainya tadi, dalam keadaan tenang dan tenteram, tersenyum simpul dan pasrah. Isterinya diam dan maklum bahwa tak ada yang lebih utama baginya daripada mengikuti jalan yang telah ditempuh suaminya, dan mengendalikan diri untuk mencontoh sifat zuhud dan ketaqwaannya.

Dewasa itu Homs digambarkan sebagai Kufah kedua. Hal ini disebabkan sering terjadinya pembangkangan dan pendurhakaan penduduk terhadap para pembesar yang memegang kekuasaan. Dan karena kota Kufah dianggap sebagai pelopor dalam soal pembangkangan ini, maka kota Homs diberi julukan sebagai Kufah kedua. 

Tetapi bagaimanapun gemarnya orang-orang Homs ini menentang pernirnpin-pernirnpin mereka sebagai kita sebutkan itu, narnun terhadap hamba yang shalih sebagaimana Sa'id, hati mereka dibukakan Allah, hingga mereka cinta dan taat kepadanya.


Pada suatu hari Umar menyampaikan berita kepada Sa'id, "Orang-orang Syria mencintaimu." "Mungkin karena saya suka menolong dan membantu mereka, " ujar Sa'id. Hanya, bagaimanapun cintanya warga kota Homs terhadap Sa'id, adanya keluhan dan pengaduan, tak dapat dielakkan: sekurang-kurangnya untuk membuktikan bahwa Homs masih tetap menjadi saingan berat bagi kota Kufah di Irak.Lanjut Bagian 3..

Said bin 'Amir (Bagian 1)


[islammotivasyon.com] , Kita tentunya tidak banyak mendengar kisah shahabat Nabi SAW yang satu ini. Selain sebagai pribadi yang selalu mengutamakan kebersahajaan dan zuhud, ia memang tidak menyukai publikasi. Tapi dibalik itu ia adalah seorang tentara Allah yang tidak pernah absen dalam semua perjuangan dan jihad yang dihadapi Rasulullah SAW.


Sa'id menganut Islam tidak lama sebelum pembebasan Khaibar. Semenjak itu, curahkan seluruh kehidupannya semata-mata untuk membela Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan dan kepatuhan, zuhud dan keshalihan, keluhuran dan ketinggian, adalah akhlak yang selalu meliputinya.


Kebesaran tokoh ini lebih mendalam dan berurat akar daripada tersembul di permukaan lahir yang kemilau. la jauh tersembunyi di sana, di balik kesederhanaan dan kesahajaannya.

Ketika Amirul Mu'minin Umar bin Khatthab memecat Mu'awiyah dari jabatannya sebagai kepala daerah di Syria, ia menoleh kiri dan kanan mencari seseorang yang akan menjadi penggantinya. Sistem yang digunakan Umar untuk memilih pegawai dan pembantunya adalah suatu sistem yang mengandung segala kewaspadaan, ketelitian dan pemikiran yang matang, karena ia menaruh keyakinan bahwa setiap kesalahan yang dilakukan oleh setiap penguasa di tempat yang jauh sekali pun, yang akan ditanya oleh Allah swt. ialah dua orang: pertama Umar, dan kedua baru penguasa yang melakukan kesalahan itu. Karenanya syarat-syarat yang dipergunakannya untuk menilai orang dan memilih para pejabat pemerintahan sangat ketat serta didasarkan atas pertimbangan tajam dan sempurna.


Syria ketika itu merupakan wilayah yang modern dan besar yang telah mengalami pelbagai pergantian peradaban sesuai dengan silih bergantinya penguasa kota itu. Ia juga menjadi pusat perdagangan yang penting. Maka menurut Umar, tidak ada yang cocok untuk negeri itu kecuali seorang suci yang tidak dapat diperdayakan syetan mana pun, seorang zahid yang gemar beribadat, yang tunduk dan patuh serta melindungkan diri kepada Allah.

Tiba-tiba Umar berseru, katanya, "Saya telah menernukannya, bawa ke sini, Sa'id bin 'Amir!" Tak lama kemudian datanglah Sa'id menemui Amirul Mu'minin yang menawarkan kepadanya jabatan wali kota Homs, tetapi Sa'id menyatakan keberatannya, katanya, "Janganlah saya dihadapkan kepada fitnah, wahai Amirul Mu'minin!" Dengan nada keras Umar menjawab, "Tidak, demi Allah saya tak hendak melepaskan anda! Apakah tuan-tuan hendak membebankan amanat dan khilafat di atas pundakku , lalu tuan-tuan meninggalkan daku?"


Dalam sekejap Sa'id dapat diyakinkan. Memang sungguh suatu hal yang tidak adil bila mereka mengalungkan ke leher Umar amanat dan jabatan sebagai khalifah, lalu mereka meninggalkannya. Dan andai seorang Sa'id bin 'Amir menolak memikul amanat tersebut, siapa lagi yang akan membantu Umar dalam memikul tanggung jawab yang amat berat itu?

Akhirnya Sa'id beserta istrinya berangkat ke Homs. Sebetulnya kedua mereka adalah pengantin baru dan isterinya adalah seorang wanita yang amat cantik. Mereka dibekali Umar secukupnya.

Ketika kedudukan mereka di Homs telah mantap, sang isteri bermaksud menggunakan haknya sebagai isteri untuk memanfaatkan harta yang telah diberikan Umar sebagai bekal mereka. Diusulkannya kepada suaminya untuk membeli pakaian yang layak dan perlengkapan rumah tangga, lalu menyimpan sisanya. Lanjut Bagian 2

Potret Kehidupan Para Sahabat (Bagian 2)

Anas bin Malik hidup setelah wafatnya Rasullullah saw sekitar delapan puluh tahun lebih. Dadanya dipenuhi ilmu yang langsung diambil dari Rosulullah.
Otaknya tumbuh dengan pemahaman kenabian. Oleh karena itu sepanjang umurnya menjadi rujukan umat Islam, tempat umat bertanya, setiap menghadapi permasalahan sulit dan tidak diketahui hukumnya.
Suatu saat terjadi perdebatan tentang keberadaan telaga Nabi nanti di hari qiyamat. Maka mereka bertanya kepada Anas tentang masalah ini. Beliau menjawab :"Aku tidak mengira hidup dalam kondisi mendapatkan kalian mendiskusikan tentang telaga. Sungguh aku telah meninggalkan para wanita tua di belakangku,  tidaklah di antara mereka sholat kecuali mereka berdoa agar dapat minum dari telaga nabi tersebut.
Dan seterusnya Anas sepanjang hidupnya selalu mengenang kehidupan Rosulullah. Adalah Anas selalu riang setiap kali bertemu dengan Rosulullah, sangat sedih di saat perpisahan, banyak mengulang-ngulang sabdanya, sangat perhatian mengikuti perkataan-perkataannya dan perbuatan-perbuatannya, menyenangi apa yang disenangi dan membenci apa yang dibenci, dan hari yang paling berkesan baginya karena dua peristiwa : Hari yang pertama ia bertemu dengan Rosulullah dan hari saat berpisah dengan Beliau. Apabila terkenang hari yang pertama beliau berbahagia, dan apabila terkenang hari yang kedua terharu yang membuat orang-orang di sekelilingnya ikut menangis. Beliau sering berkata :"Sungguh saya melihat Nabi saw pada hari pertama bersama kita, dan hari pada saat wafatnya, maka tidaklah aku melihat dua hari itu ada kemiripan. Maka pada hari saat masuk ke Madianah menyinari segal sesuatu. Dan pada hari hampir wafatnya, Jadilah Madinah kota yang gelap. Terakhir aku melihat Rosulullah saw pada hari senen ketika tabir di kamarnya di buka, maka aku melihat wajahnya seperti kertas mushaf, para sahabat saat itu berdiri di belakang Abu Bakr melihatnya, hampir-hampir mereka bergejolak kalau saja Abu bakr tidak menenangkan mereka. Pada hari itulah Rosulullah saw wafat, maka tidaklah kami melihat pemandangan yang sangat mengherankan dari pada melihat wajah Rosulullah saw harus diuruk dengan tanah.
Adalah Rosulullah saw sering mendoakan  Anas bin Malik. Di antara doanya :
اللهم ارزقه مالا وولداً ، وبارك له ً

Ya Allah berilah razqi kepadanya harta dan anak, dan berkahilah.

Dan sungguh Allah telah mengabulkan doanya, jadilah Anas orang yang kaya di kalangan Anshor, dan paling banyak keturunannya, sampai-sampai dia panjang umur dan hidup bersama cucu-cucunya lebih dari seratus orang. Dan umurnya mencapai seratus tahun lebih. Dan adalah Anas, sahabat yang sangat mengharapkan syafaat Rosulullah saw. pada hari qiyamat, sering sekali ia mengatakan :" Aku berharap dapat bertemu Rosulullah pada hari qiyamat dan mengatakan kepada Rsulullah saw. ya Rosul inilah saya yang dulu menjadi pembantumu.
Ketika Anas sakit menjelang kematiannya, dia berkata kepada keluarganya :"Tuntunlah aku untuk membacaa لا إله إلا الله ، محمد رسول الله ." Begitulah ia mengulang-ngulangnya sampai datang ajalnya. Beliau pernah berwasiat agar tongkat kecil milik Rosul dikuburkan bersamanya, maka diletakkanlah di antara lambungnya. Selamat bagi Anas, yang telah dikaruniai oleh Allah dengan berbagai macam kebaikan. Total masa hidup Anas bersama rosulullah saw selama sepeuluh tahun. Beliau berada di ranking ketiga di dalam meriwayatkan hadits, setelah Abu Huroiroh dan Abdullah bin Umar. Semoga Allah membalasnya dan ibunya atas jasanya terhadap Islam dan kaum muslimin dengan sebaik-baik balasan.

Potret Kehidupan Para Sahabat (Bagian 1)



أنس بن مالك الأنصاري
" اللهم ارزقه مالاً وولداً ، وبارك له
Ya Allah berilah dia harta
 dan anak dan berkahilah.( Doa Rosul )

Anas bin Malik sejak  usia belianya telah mendapt talqin dua syahadat dari ibunya Al ghumaisho', sejak itu tumbuhlah kecintaan hatinya yang bersih kepada Rosul saw , bersemangat untuk mendengar langsung darinya, tidak heran kalau kadang telinga lebih awal merindukan dari pada penglihatan. Sudah lama anak kecil ini mendambakan bertemu langsung dengan Rosul  di Makkah atau di Yatsrib sehinga ia dapat bahagia dengan pertemuannya.

Tidak berselang waktu yang lama, Yatsrib dibahagiakan oleh kedatangan Rosulullah dan sahabatnya As Siddiq yang sudah lama di damba-dambakan. Maka tidak satupun keluarga dan hati penduduk Madinah yang tidak berbahagia. Saat itu semua pemuda menyebarkan berita setiap pagi bahwa Rosulullah saw akan tiba di Yatsrib. Anas bin Malik bersama anak-anak yang lain yang berusaha ingin bertemu dengan Rosulullah, namun ketika belum berhasil menemuinya ia sedih.
Pada suatu pagi yang indah yang menyebarkan keharuman, masyarakat berteriak-teriak , bahawa Muhammad dan sahabatnya telah dekat dari kota Madinah, semua orang berusaha menyambut kedatangan Nabi saw. Begitu juga anak-anak, mereka berlomba-lomba ikut menyambut Rosulullah dengan hati yang diliputi kegembiraan yang meluap-luap dan wajah yang berseri-seri, maka di antara anak-anak itu adalah Anas bin Malik. Sementara para wanita  telah berada di atas rumah mereka, menunggu dan berusaha melihat wajah Rosulullah saw. hati mereka berkata :" Mana ya orangnya yang disebut Rosul ? Sungguh hari itu adalah hari yang bersejarah. Peristiwa ini terus dikenang oleh Anas sampai usianya hampir seratus tahun.

Belum lama Rosul tinggal di Madinah, datanglah seorang wanita  bernama Al Ghumaiso' binti Milhan menemui Rosulullah saw bersama putranya Anas bin Malik, ia berkata :
يا رسول الله .. . لم يبق رجُلٌ ولا امرأةٌ من الأنصار إلا وقد أتحفك بتُحفَةٍ ، وإني لا أجدُ ما أُتحِفُكَ به غير ابني هذا . .. فخُذْهُ ، فليخدمك ما شئت . . .

Wahai Rosul, tidak satupun seorang laki-laki dan perempuan dari Ansor ini, kecuali telah memberi hadiah kepadamu, dan sesungguhnya Aku tidak memiliki apa yang dapat aku berikan kepadamu kecuali anakku ini….maka ambillah anak ini agar dia dapat membantumu kapan anda mau.

Tergugahlah Rosul untuk menerimanya, beliau mengusap kepalanya dan menyatukannya dengan keluarganya, Saat itu umur Anas sepuluh tahun, saat kebahgaiaannya dapat menjadi pembantu Rosul, dan hidup terus bersama Rosulullah sampai Rosul kembali kepada Allah. Adalah masa hidupnya menjadi pembantu Rosul selama sepeuluh tahun. Kondisi ini sangat dimanfaatkan oleh Anas untuk menimba langsung hidayah dari Rosul, memahami semua sabdanya, mengtahui sifat-sifatnya dan keutamaannya yang tidak dapat diketahui oleh selainnya.
Anas berkata :"Adalah Rosulullah saw orang yang paling baik akhlaknya, lapang dadanya, dan banyak kasih sayangnya. Suatu saat beliau menyuruhku untuk suatu keperluan, ketika aku berangkat aku tidak menuju ke tempat yang Rosul inginkan, namun aku pergi ke tempat anak-anak yang sedang bermain di pasar ikut bermain bersama mereka. Ketika aku telah bersama mereka aku merasa ada seseorang berdiri di belakangku dan menarik bajuku, maka aku menoleh, ternyata dia adalah Rosululah dengan senyum beliau menegurku ::" Ya Unais ( panggilan kesayangan ) apakah kamu sudah pergi ke tempat yang aku perintahkan? Aku gugup menjawabnya : Ya, ya Rosul, sekarang aku akan berangkat. Demi Allah aku telah menjadi pembantunya sepuluh tahun, tidak pernah aku mendengar ia menegurku :" Mengapa kamu lakukan ini dan itu, atau mengapa kamu tidak melakukan ini atau itu ?
Dan Adalah Rosulullah saw jika memanggilnya selalu memanggilnya dengan panggilan rasa sayang dan memanjakan yaitu dengan memanggilnya dengan kata unais atau ya bunayya. Begitu juga Rasullulloh banyak menasihatinya sampai memenuhi hati dan otaknya. Diantara nasihat-nasihatnya adalah :
( يا بُنيَّ إن قدرت أن تُصبح وتُمسي وليس في قلبك غش لأحد فافعل . . .

Ya bunayya jika engkau mampu setiap pagi dan sore hatimu bersih dari perasaan dengki kepada orang lain maka lakukanlah.
يا بُنيَّ إنَّ ذلك من سُنتي ، ومن أحيا سُنتي فقد أحَبَّني .
ومن أحَبَّني كان معي في الجنة .

Ya bunayya sesungguhnya hal itu adalah sunnahku, barang siapa menghidupkan sunnahku maka mencintaiku, barangsiapa mencintaiku akan bersamaku di surga.
يا بُني إذا دخلت على أهلك فسلم يكن بركَةً عليك وعلى أهل بيتك )
Ya bunayya jika engkau menemui keluargamu maka berilah salam niscaya akan menjadi keberkahan bagimu dan bagi keluargamu.